Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

Perjalanan Hidup Manusia dalam Khutbah Jumat di Perbatasan: Dari Kandungan Ibu hingga Kembali kepada Allah

BidikSatuNusantara.com | 4 April 2026 | Sanggau, Kalimantan Barat
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan Sholat Jumat di Masjid Muhajirin, kawasan PLBN Entikong, perbatasan Indonesia–Malaysia, Jumat (4/4/2026). Kumandang azan yang menggema menandakan masuknya waktu Sholat Jumat, diikuti dengan keheningan para jamaah yang mempersiapkan diri untuk mendengarkan khutbah.
Setelah muazin menyelesaikan azan, mikrofon diserahkan kepada khatib, Ustadz Tata yang juga merupakan anggota Polsek Entikong. Dengan langkah tenang, ia naik ke mimbar dan membuka khutbah dengan salam serta pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam khutbahnya, Ustadz Tata mengangkat tema mendalam tentang perjalanan hidup manusia dengan judul “Sejak Ibu Mengandung hingga Kembali kepada Allah.” Ia mengajak jamaah untuk merenungkan proses kehidupan manusia sejak dalam kandungan hingga akhir hayat.
“Kaum Muslimin yang dirahmati Allah, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah, perjalanan hidup kita dimulai sejak ibu mengandung selama sembilan bulan sepuluh hari, dengan penuh perjuangan dan pengorbanan antara hidup dan mati,” ujar khatib di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan bagaimana setelah dilahirkan, manusia memasuki fase demi fase kehidupan. Mulai dari pemotongan tali plasenta oleh tenaga medis, kemudian disusui oleh ibu selama kurang lebih dua tahun, hingga masa disapih. Selanjutnya, manusia tumbuh, menjalani pendidikan, bekerja, hingga membangun rumah tangga dan memiliki keturunan.
Khutbah tersebut juga menyinggung kewajiban bagi laki-laki untuk menjalani khitan sebagai bagian dari syariat Islam, serta pentingnya menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab dan keimanan.
Lebih lanjut, Ustadz Tata mengingatkan bahwa setiap manusia pada akhirnya akan menghadapi masa tua, sakit, hingga ajal menjemput. Ia menekankan bahwa tidak ada satu pun manusia yang mampu menghindari kematian.
“Saat sakaratul maut datang, apa yang kita bawa? Tidak ada harta, tidak ada jabatan. Yang kita bawa hanyalah amal baik dan kain putih sebagai kafan. Setinggi apa pun kedudukan kita, semua akan kembali kepada Allah,” tegasnya.
Pesan tersebut menggugah kesadaran jamaah akan pentingnya memperbanyak amal ibadah dan menjaga keimanan selama hidup di dunia.
Pelaksanaan Sholat Jumat di Masjid Muhajirin PLBN Entikong diikuti oleh sekitar 530 jamaah. Seluruh rangkaian ibadah berlangsung dengan khusyuk, aman, dan penuh keberkahan tanpa adanya gangguan.
Kegiatan ini menjadi bukti kuatnya nilai religius masyarakat di wilayah perbatasan, sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah di antara warga dan aparat yang bertugas.
Demikian laporan khutbah Jumat dari perbatasan Entikong.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.(Vj)

Posting Komentar

0 Komentar