Berbekal doa dan secercah nekat di dada,
Kami seberangi batas negara, meninggalkan keluarga.
Tergiur gemerlap ringgit sebagai penyambung nyawa,
Menantang nasib lewat jalan yang tak benderang cahayanya.
Di benak kami hanya ada senyum anak dan peluk istri,
Membayangkan dapur yang mengepul, dan atap yang tak lagi membocori.
Namun malang, takdir baik enggan berpihak,
Bukan kerja keras yang dihargai, melainkan langkah yang diinjak.
Tanpa selembar kertas sakti pelindung diri,
Kami diburu bak pesakitan di tanah yang asing ini.
Bukan lembaran ringgit yang masuk ke dalam saku,
Melainkan jeruji besi dan dinding dingin yang membelenggu.
Tidur berdesakan di bawah pekatnya malam,
Makan seadanya, sementara rindu perlahan menenggelam.
Rasa takut dan sepi menggerogoti sisa-sisa kewarasan,
Meratapi hari, kapankah derita ini menemui penghabisan?
Kini, di gerbang Entikong kami tertunduk pilu,
Seratus tujuh belas raga memikul lelah, trauma, dan sembilu.
Maafkan kami, wahai keluarga yang cemas menanti di rumah,
Niat hati membawa secercah harapan, justru pulang dengan jiwa yang patah.
Demi keping ringgit yang tak pernah singgah,
Kami tebus dengan tangis, penjara, dan jalan yang salah.
0 Komentar