KALIMANTAN BARAT – Pernyataan tegas disampaikan Panglima Sabang Merah, Fetrus, dan Panglima Asap, Andreas, terkait pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman suku dan agama, sekaligus menyinggung persoalan tanah yang kerap menjadi polemik di wilayah Kalimantan Barat.
Dalam pernyataannya, kedua tokoh adat tersebut mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang mencoba memecah belah persatuan, terutama dengan isu suku, agama, dan kepentingan ekonomi.
“Kita ini sama, tidak ada perbedaan.
Semua manusia diciptakan Tuhan. Jangan sampai kita diadu domba hanya karena suku dan agama,” tegas Fetrus.
Lebih lanjut, ia menyoroti persoalan tanah adat yang dinilai kerap diabaikan, bahkan diduga berpindah tangan ke pihak perusahaan, termasuk perusahaan perkebunan kelapa sawit.
Panglima Asap, Andreas, dengan nada keras menegaskan bahwa tanah yang selama ini menjadi tempat hidup masyarakat adat bukanlah milik perusahaan.
“Tanah ini dari leluhur, bukan dari perusahaan. Jangan sampai hak masyarakat adat diambil atau diabaikan,” ujarnya.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap konflik lahan antara masyarakat adat dan perusahaan di sejumlah wilayah Kalimantan Barat. Isu tersebut dinilai sensitif karena berpotensi memicu konflik sosial jika tidak ditangani secara adil dan transparan.
Kedua panglima juga mengajak seluruh elemen masyarakat, tokoh adat, dan pemerintah untuk bersama-sama menjaga kondusivitas daerah serta menghormati hak-hak masyarakat adat.
Mereka menegaskan bahwa solidaritas masyarakat Dayak harus menjadi contoh nyata bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk bersatu.
(Hery Suryadi)
0 Komentar