Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

Ambalau Sekarat! BBM dan Gas Lenyap, Warga Kembali ke Zaman Kayu Bakar

Www.bidiksatunusantara.id-

Sintang Kalbar,  Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang, kian terjerumus dalam krisis energi berkepanjangan. Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dan Gas Elpiji 3 kilogram bukan lagi sekadar keluhan, melainkan telah berubah menjadi bencana sosial yang melumpuhkan kehidupan warga.

Kemarahan masyarakat akhirnya meledak. Kamis, 8 Januari 2025, ratusan warga yang tergabung dalam Aksi Masyarakat Peduli Kecamatan Ambalau menggelar aksi protes di halaman Kantor Camat Ambalau. Mereka membawa jerigen kosong dan tabung gas kosong, simbol getir penderitaan warga yang seolah ditelantarkan negara. Bentangan baliho bertuliskan “Tolong Aparat Menindak Tegas Mafia Migas di Ambalau” menjadi jeritan keras masyarakat yang sudah terlalu lama dipaksa diam.

Tokoh masyarakat sekaligus koordinator aksi, Antonius Junas, menyebut kondisi Ambalau sudah berada di titik nadir. Elpiji 3 kilogram langka, kalaupun ada, harganya melonjak liar jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Akibatnya, warga dipaksa kembali memasak dengan kayu bakar, sebuah ironi pahit di tengah gembar-gembor pembangunan. “Ini sangat memprihatinkan. Masyarakat terpaksa kembali ke cara-cara lama hanya untuk makan. Ini bukan kemajuan, ini kemunduran kesejahteraan yang brutal,” tegas Junas dengan nada geram.

Tak hanya gas, BBM Pertalite juga menghilang dari peredaran. Padahal, BBM merupakan nyawa transportasi air satu-satunya jalur utama mobilitas warga Ambalau yang terisolasi dari akses darat. Dampaknya menghantam semua lini kehidupan yaitu Pelajar terhambat kembali ke sekolah, Warga kesulitan berobat, Biaya transportasi melonjak tajam, Distribusi barang terputus, serta Aktivitas ekonomi nyaris mati. “Tanpa BBM, Ambalau seperti dikunci. Warga tak bisa bergerak, ekonomi macet, kehidupan lumpuh,” ungkap Junas.

Dalam aksi tersebut, masyarakat menyampaikan tiga tuntutan utama yakni Penambahan kuota Elpiji 3 Kg dan BBM Pertalite khusus untuk Kecamatan Ambalau, Distribusi energi yang adil dan tepat sasaran, bukan hanya formalitas di atas kertas, serta Penindakan tegas terhadap mafia migas dan permainan harga yang diduga kuat memperparah krisis.

Penanggung jawab aksi, Yosef Obeng, menyatakan warga tidak akan tinggal diam jika penderitaan ini terus dibiarkan. “Kami muak. Aparat dan pemerintah harus bertindak. Jangan biarkan mafia migas mempermainkan nasib masyarakat Ambalau. Kami berhak hidup layak, berhak atas energi dengan harga wajar,” tegas Yosef.

Aksi damai ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan pihak terkait. Warga Ambalau menuntut bukan janji, tetapi tindakan nyata. Jika krisis ini terus dibiarkan, Ambalau bukan hanya kekurangan BBM dan gas tetapi kehilangan harapan. (TIM)

Posting Komentar

0 Komentar